Sejarah Batik di Indonesia

Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Batik merupakan teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Teknik ini di Mesir telah dikenal sejak abad ke-4 SM, jauh sebelum kita mengenal Batik di Indonesia. Catatan ini diperkuat dengan ditemukannya kain pembungkus mumi, yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola.

Selain di Mesir, di asia teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok pada zaman dinasti Sung atau T’ang (abad 7-9). Pada perkembangannya, banyak bermunculan kreasi batik-batik dengan ragam hias yang berasal dari budaya China sepeti Batik Encim. Di Jepang dikenal Batik Bingata dari Kerajaan Ryukyu pada periode abad ke-14, ketika pulau Okinawa dibuka bagi orang asing, masuknya barang asing dan teknik manufaktur.

Pada awal abad ke-19 banyak diterapkan ragam hias wastra dari India yaitu kain Patola dan Chintz atau Sembagi. Jenis batik ini mulai dibuat oleh pedagang Arab dan Cina di kawasan pantai utara Pulau Jawa terutama Cirebon dan Lasem. Setelah perdagangan Nusantara dengan India menurun mengakibatkan sulitnya memperoleh kedua kain tersebut, maka banyak dibuat tiruan Patola dan Chintz, melalui kedua jenis kain inilah unsur budaya India mempengaruhi ragam hias batik.

Batik yang menggunakan ragam hias dari kain Sembagi disebut batik Sembagi sementara kain yang menampilkan tiruan pola tenun Patola disebut batik Jlamprang atau batik Nitik. Daerah penghasil batik India atau batik Sembagi adalah Cirebon, Lasem, Pekalongan setelah abad ke-17 dan mendapatkan respon pasar yang bagus di Sumatra. di Sumatra Batik Sembagi tumbuh dan berkembang karena sangat digemari oleh masyarakat Jambi dan Palembang.

Di Afrika selain Mesir, teknik seperti batik dikenal oleh suku yoruba di nigeria, serta suku soninke dan wolof di senegal. Menurut berbagai sumber, batik Afrika masih punya hubungan saudara dengan batik Indonesia. Masyarakat  Afrika mulai mengenal batik berkat pedagang Belanda yang datang dari Indonesia. Pedagang Hindia Belanda ini membawa batik ke Afrika pada sekitar pertengahan abad 19. Mereka pun mulai mengolah dan memodifikasi batik Indonesia menjadi motif batik khas negaranya.

 

Perkembangan Batik di Indonesia

Banyaknya pengaruh budaya yang masuk ke Indonesia, juga memperngaruhi sejarah perkembangan Batik di Nusantara. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada sejak zaman majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah perang dunia I atau sekitar tahun 1920-an. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7.

G.P. Rouffaer

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di kediri, jawa timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di jawa pada masa sekitar itu. Hal ini diperkuat dengan adanya temuan pola batik yang dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan Buddhis dari Jawa Timur pada abad ke-13.

Sejarah  pembatikan  di  Indonesia  berkaitan  dengan  perkembangan  kerajaan majapahit dan dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam  beberapa catatan, pengembangan batik  banyak  dilakukan  pada  masa-masa  kerajaan  Mataram,  kemudian  pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Banyak pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan Batik menjadi alat perjuangan ekonomi tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda.

 

Catatan Sejarah Batik di Indonesia

Sebuah tinjauan sejarah yang diterbitkan oleh Bataviaasche Genootchap Van Kunsten Wetwnschapen tahun 1912 menyebutkan, pada jaman Pakubuwono V, sudah ada istilah batik dan pada waktu itu sudah terdapat motif-motif halus seperti gringsing, kawung, parang rusak dan lain-lain. Pada masa keraton Kartasuro pindah ke Surakarta, muncul istilah mBatik dari Jarwo Dosok. Kata ini berasal dari gabungan kata “ngembat” dan “titik” yang berarti membuat titik.

Jadi dari serangkaian cerita yang panjang tentang Sejarah Batik di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa teknik batik sudah lama ada bahkan disebutkan di Mesir telah ada sejak abad ke-4. Namun, teknik ini yang berkembang di Indonesia banyak dipengaruhi beragam budaya telah diakui ada sejak abad ke-12. Teknik perintangan warna ini di Indonesia memiliki ke-khas-an yaitu menggunakan canting, lalu muncul istilah “Batik” sendiri itu menamai teknik ini ketika perkembangan kerajaan Mataram.

Semoga catatan sejarah mengenai Batik di Indonesia ini dapat memupuk kecintaan kita terhadap budaya Nusantara, terutama bagi generasi penerus bangsa. Ketika UNESCO pada tahun 2009 memberikan pengakuan bahwa Batik merupakan “Warisan Budaya Dunia”, maka sejatinya itu adalah sebuah tanggung jawab moral Bangsa Indonesia untuk terus melestarikannya. Selain itu hal ini juga merupakan sebuah peluang bagi perluasan pasar bagi Batik, untuk meningkatkan daya saing kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *