Sejarah Batik Pekalongan

Siapa yang tak tahu Batik Pekalongan ? Hampir setiap yang suka Batik, pasti tahu Pekalongan sebagai sentra Batik di Indonesia. Sebutan Kota Batik untuk Pekalongan memang layak disematkan, ini karena Batik sudah menjadi urat nadi masyarakat Kota Pekalongan. Mayoritas masyarakat Kota Pekalongan bekerja dalam industri Batik, sehingga SDM Batik di Pekalongan terkenal paling mumpuni dibandingkan daerah penghasil Batik lainnya di Indonesia.

Sejarah perkembangan Batik di Pekalongan, sangat berkaitan dengan perkembangan peradaban kerajaan Mataram Islam di tanah Jawa. Berbagai sumber menyebutkan, bahwa perkembangan Batik di Pekalongan mengikuti penyebaran ajaran Islam oleh para Wali dan Pedagang Muslim yang datang pada abad ke-XVII. Pada tahun 1620, batik telah menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Pekalongan. Pada tahun-tahun itu para buruh pribumi mulai membuka usaha sendiri.

Dalam dokumen milik V.O.C disebutkan bahwa pada tahun 1740 pernah terjadi pengiriman kain dari Pekalongan ke Batavia dengan omset 20 ribu real Spanyol per tahun. Pilihan warna yang mencolok dari batik Pekalongan tampaknya tidak sekedar sebagai pelengkap pola hias. Adanya pengaruh warna keramik pada masa dinasi Ming yang hanya diproduksi pada abad ke-17 sampai 18. Melalui seni batik mereka memiliki tujuan ganda sebagai seni pakai dan akulturasi.

Namun, sebelum ragam hias keramik Ming abad 17 mewarnai corak batiknya, batik Pekalongan pernah mendapatkan penghargaan di tengah-tengah keluarga Cina ningrat, yaitu dari Ratu Roro Sumanding. Ratu Roro Semanding adalah istri Sunan Cirebon Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang nama aslinya Tan Eng Hoat (Putri Ong Tien). Penghargaan ini diberikan karena batik Pekalongan yang diadaptasi dari keramik telah membawa kebesaran nama dinasti Ming sebagai penguasa Cina.

Pada periode ini juga mulai diberlakukan aturan pemakaian batik dimana masyarakat biasa dilarang memakai maupun memproduksi batik bermotif larangan (Awisaning Ratu/Larangan Dalem). Batik dengan motif batik jenis ini hanya boleh dikenakan oleh keluarga Keraton. Meskipun Pekalongan pada masa Mataram dilarang memproduksi batik pola larangan, namun perajin di desa-desa masih membuat batik tradisi lama berpola kawung-gringsing atau tumpal.

Diskriminasi ini memunculkan perlawanan kaum pedagang muslim dan Tionghoa kepada kaum priyayi penguasa, hal ini mempengaruhi munculnya corak-corak batik Pekalongan. Sikap perlawanan masyarakat Pekalongan tersebut menjadikan daerah tetangga sekitarnya menyebutnya dengan semboyan Merak Ngigel, digambarkan dengan simbol burung merak yang sedang menari sehingga memberikan makna sifat-sifat masyarakat Pekalongan yang tidak mau ditindas dan mandiri.

 

Perkembangan Batik di Pekalongan

Proses pembuatan batik di Pekalongan secara intensif diperkirakan sudah ada sejak Tahun 1830, atau pasca perang Jawa (Perang Diponegoro). Ketika itu sisa-sisa pasukan Laskar Diponegoro menetap dan mengembangkan usaha Batik disini. Meskipun ketika Sultan Agung memerintah Kerajaan Mataram, di Pekalongan sudah ada penjual Batik Pronocitro, yaitu saudagar Batik Pekalongan yang bernama Nyai Singobarong.

Dengan terjadinya Perang Diponegoro, mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur serta Barat. Kemudian di daerah – daerah baru tersebut para keluarga serta pengikutnya mengembangkan batik termasuk diantaranya di Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Kejayaan Batik Pekalongan mulai dikenal sejak sejumlah perempuan Indo-Eropa terjun ke dunia Batik. Alasan mereka terjun ke dunia batik, karena kalangan Indo-Eropa mengenakan sarung batik sebagai busana resmi mereka. Menurut buku “Batik Belanda 1840-1940; pengaruh Belanda pada Batik Jawa” karangan Harmen Velduisen, menyebutkan bahwa orang-orang Indo-Eropa ini merupakan istri-istri dari sejumlah pejabat Kota Praja.

 

Pengaruh Budaya Belanda

Wanita Indo-Eropa yang terjun di Batik (dari kiri ke kanan) Eliza Charlota van Zuylen, Lein Metzelaar dan Christina van Zuylen.

Sebagian besar dari orang Indo-Eropa ini menetap di Kampung Eropa, diantaranya di Jalan Harenstraat (sekarang Jalan Diponegoro dan Jalan Imam Bonjol), Jalan Residenweg (Jalan Progo) dan sekitar Bugisan. Tokoh yang terkenal adalah Lein Metzelaar, Eliza Charlota van Zuylen dan Christina van Zuylen. Sedangkan pembatik yang terkenal dari kalangan Tionghoa adalah Oey Soe Chun, Oey Soen King dan Liem Ping Wie.

Perkembangan motif Batik Pekalongan sangat beragam, dipengaruhi berbagai kebudayaan yang ada. Diantaranya seperti pengaruh Budaya India, Cina, Belanda, Persia, Jepang, Turki dan Arab yang masing-masing memiliki corak yang khas. Pada masa pendudukan Jepang, sempat berkembang pula motif bergaya Jepang yang disebut Batik Jawa Hokokai. Ada juga motif yang terpengaruh budaya Arab, yaitu motif Jlamprang yang sekarang menjadi ciri khas Batik Pekalongan. 

Motif jlamprang diyakini dan diakui oleh beberapa pengamat motif batik, sebagai motif asli Pekalongan. S.K Sewan Santoso, S. Teks dalam bukunya Seni Kerajinan Batik Indonesia yang diterbitkan Balai Penelitian Batik dan Kerajinan, Lembaga Penelitian dan Pendidikan Industri, Departemen Perindustrian RI (1973), mengatakan bahwa motif Jlamprang di Pekalongan dipengaruhi oleh Islam. Artinya, motif ini lahir dari perajin batik keturunan arab yang beragama islam.

Adanya larangan dalam Islam menggambar binatang maupun manusia mendorong perajin batik Pekalongan menciptakan motif hias geometris. Dr. Kusnin Asa berpendapat bahwa Jlamprang merupakan bentuk motif kosmologis dengan mengetengahkan pola ragam hias ceplokan bentuk lung-lungan dan bunga padma, menunjukan makna tentang peran dunia kosmis yang hadir sejak agama Hindu dan Buddha berkembang di Jawa.

 

Perkembangan Batik Pekalongan

Sampai awal abad ke-XX proses pembatikan yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian import. Setelah perang dunia kesatu baru dikenal pembikinan batik cap dan pemakaian obat-obat luar negeri buatan Jerman dan Inggris. Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekajangan ialah pertenunan yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana.

Banyak jenis bahan kain yang digunakan dalam pembuatan batik pekalongan seperti sutra, sunwash, serta yang paling populer tentunya bahan katun. Ada dua bahan kain katun yang sering digunakan oleh perajin batik pekalongan, yang pertama adalah kain katun primisima dengan kualitas terbaik serta kualitas eksport, bahan yang kedua adalah katun prima, keduanya mudah menyerap keringat tidak panas saat di pakai, katun prima inilah yang sering dipakai oleh perajin batik pekalongan.

Batik asli Pekalongan terkenal dengan istilah batik pesisir kaya akan warna. Sehingga batik pesisir terkenal dengan ragam hiasnya yang bersifat naturalis. Motif Batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, di dalam batik pekalongan kita akan sering menjumpai dimana motifnya dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Pasang surut perkembangan batik di pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *