Sejarah Batik Lasem

Siapapun yang benar-benar mencintai Batik, pasti mengenal Lasem sebagai penghasil Batik Tulis yang melegenda. Kota kecamatan Lasem terletak 12 km arah timur Ibukota Kabupaten Rembang berbatasan dengan Laut Jawa sebelah Utara, luasnya 45,04 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 44.879 orang ( Litbang Kompas, 2003 ). Letaknya yang dilewati oleh jalur Pantura, menjadikan Lasem sebagai tempat yang strategis dalam bidang perdagangan dan jasa.

Lasem sebagai Kecamatan terbesar kedua di Rembang dikenal juga dengan sebutan “Tiongkok kecil”, karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan Tionghoa yang sangat banyak. Di Lasem juga terdapat patung Buddha Terbaring yang berlapis emas. Lasem dikenal sebagai kota santri, kota pelajar dan salah satu daerah penghasil buah jambu dan mangga selain hasil dari laut seperti garam dan terasi.

Menurut catatan sejarah, Lasem tempo dulu (1350-1375) adalah sebuah kerajaan kecil di bawah Kerajaan Majapahit. Uniknya, sang pemimpin selalu kaum wanita. Sekitar tahun 1351 M yang menjadi ratu di wilayah Lasem adalah seorang putrid yang bernama Dewi Indu (Indu Dewi). Beliau adalah putri dari Raden Kuda Merta dengan Dewi Prabu Hayam Wuruk di Wilwatika. Karena kecantikannya beliau diberi gelar Dewi Purnama Wulan.

 

Ciri Khas Batik Lasem

Batik Lasem atau Batik Laseman yang terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani, yakni warna khas warna merah darah ayam, ‘hijau botol’ dan warna biru tua. Dengan ciri khas pewarnaan tersebut dan kualitas pembatikan yang menonjol, membuat Batik Lasem digandruni para pencinta Batik. Diantara motif yang sangat digemari dari Batik Lasem adalah motif burung Hong dan Naga, hasil akulturasi kebudayaan masyarakat Tionghoa.

Batik Laseman dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dan budaya negeri seberang, yaitu China dan Vietnam. Banyaknya orang-orang China dan Vietnam yang menetap di Lasem dan membaur dengan penduduk lokal lambat laun melahirkan akulturasi kebudayaan yang positif dan kaya, salah satunya adalah seni Batik itu sendiri. Secara historis, budaya di Lasem merupakan perpaduan budaya dari masyarakat suku Jawa dan China yang dibawa oleh pasukan Laksamana Cheng Ho.

Dalam literatur sejarah disebutkan, kedatangan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413 memiliki kaitan erat dengan perkembangan Batik Lasem. Babad Lasem karangan Mpu Santri Badra di tahun 1401 Saka ( 1479 M), ditulis ulang oleh R Panji Kamzah tahun 1858 menyebutkan, anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Negara Tiong Hwa, Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni memilih menetap di Bonang setelah melihat keindahan alam Jawa.

Seorang budayawan Lasem, Yon Suprayoga menyebutkan bahwa Na Li Ni mengajarkan teknik batik kepada anak-anak warga Lasem di Kemendung (Lasem) kurang lebih tahun 1420 Masehi. Ia mengajar membatik dengan motif burung hong, liong, bunga seruni, banji, mata uang dan warna merah darah ayam khas Tionghoa yang kemudian motif-motif ini menjadi ciri khas Batik Lasem. Pada  awal abad ke-19 Batik Lasem mengalami masa jaya, dengan banyaknya ekspor ke Thailand dan Suriname.

 

Perkembangan Batik Lasem

Pada masa jayanya dahulu, setiap rumah orang Tionghoa mempunyai usaha pembatikan dengan merekrut tenaga pembatik dari daerah desa sekitar. Para pekerja ini melakukan pembatikan hanya untuk mengisi waktu ketika menunggu masa tanam dan panen padi. Batik Lasem ini sudah ada sejak berabad silam dan sempat mengharumkan nama kota Rembang dengan menjadi komoditi di Asia.

Pemasaran batik Lasem pada awal abad XX sudah meliputi seluruh Jawa, Sumatera, Bali, Thailand Selatan, Malaka dan Suriname. Tidak mengherankan jika industri Batik Lasem menjadi sebagai salah satu dari lima sentra batik terbesar Hindia Belanda, sejajar dengan industri batik di daerah-daerah Surakarta, Pekalongan, Yogyakarta dan Cirebon. Perkembangan pesat Batik Lasem, menjadikannya industri rumah tangga yang memiliki kedudukan penting dalam perekonomian penduduk Lasem.

Kejayaan Batik Lasem didukung dengan banyaknya jumlah pengusaha batik yang cakap disana pada waktu itu. Pada tahun 1930 jumlah pengusaha batik di Lasem adalah 120 orang. Mereka seluruhnya merupakan pengusaha batik etnis Tionghoa. Kejayaan industri Batik Lasem berlanjut sampai tahun 1942. Jumlah pengusaha Batik Lasem terus berkurang akibat kurang lancarnya regenerasi pengusaha batik, krisis ekonomi nasional dan ketatnya persaingan antar sesama pengusaha batik.

Kini, tinggal satu orang yang mempertahankan keunikan Batik Tulis Lasem. Dialah Sigit Witjaksono atau Nyo Tjoen Hian. Sigit Witjaksono lahir pada tahun 1929. Ia mewarisi usaha batik dari sang ayah, Nyo Wat Dyiang. Usaha batik keluarga yang didirikan ayahnya pada 1923 masih terus bertahan hingga sekarang. Kini, Sigit menamakan usaha kerajinan batiknya Sekar Kencana. Usaha di Jalan Babagan IV/4 Lasem itu, merupakan kerajinan batik tertua di Lasem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *