Sejarah Batik Banyumas

Daerah penghasil Batik di Indonesia, tak hanya Jogja atau Pekalongan saja tapi juga tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa Tengah sendiri, Banyumas juga memiliki sentra Batik meskipun tidak populer seperti Pekalongan dan Solo. Batik Banyumas tidak terlepas dari pengaruh budaya mataram, seperti halnya Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan. Awalnya Batik Banyumas berpusat di daerah Sokaraja, dibawa oleh pengikut Pangeran Diponegoro setelah usainya perangan pada tahun 1830.

 

Seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Najendra mengembangkan batik di Sokaraja. Pada masa itu bahan pembuatan batik diperoleh dari alam sekitar seperti pohon tom dan pohon mengkudu untuk pewarna, sedangkan kainnya menggunakan kain mori yang mereka tenun sendiri. Meskipun cecara pasti asal mulai Batik Banyumas belum bisa dilacak, tetapi menurut berbagai sumber, Batik Banyumas muncul akibat adanya kademangan-kademangan di daerah Banyumas.

 

Menurut Nian S. Djoemena dalam bukunya Batik dan Mitra, bahwa asal mula batik Banyumas dibawa oleh pengungsi-pengungsi dari daerah Solo ketika di Kerajaan Mataram terjadi perang saudara sekitar tahun 1680. Perang saudara ini akibat politik pecah belah Belanda. Pangeran Puger dijatuhkan oleh Amangkurat II dan VOC melarikan diri ke daerah Banyumas. Pengungsi-pengungsi inilah yang diduga menyebarkan budaya batik di Banyumas.

 

Dalam buku Katalog Batik Banyumasan disebutkan bahwa pada tahun 1913-1933, Bupati Banyumas, Pangeran Arya Gandasubrata senang membuat desain yang kemudian dibatik istrinya.Penyebaran Batik di Banyumas berkaitan erat dengan munculnya Kademangan sebagai pusat pemerintahan, karena adanya budaya berbusana batik nyamping (memakai kain batik untuk bawahan pakaian) yang dikenakan oleh kalangan pemerintahan pada masa itu.

 

Busana Nyamping Pemerintahan Keraton

Budaya berbusana nyamping menggunakan kain batik ini juga sebagai identitas dari si pemakai, bahwa dia mempunyai jabatan tertentu, atau dari kalangan tertentu. Karena orang pemerintahan pada jaman dulu pakainya batik nyamping, sehingga harus punya pembatik. Misal dalam keraton, membatiknya kan nggak bisa sendiri, akhirnya mengambil tenaga dari luar, orang-orang sekitar keraton yang kemudian Batik juga diproduksi diluar keraton dan menjadi pakaian sehari-hari.

 

Di Banyumas terdapat 2 sentra batik, yang pertama di Banyumas Lama dan yang kedua ada di Sokaraja. Menurut sejarah batik Banyumas Lama, sentra batiknya berada di Sudagaran, sebuah kampung yang berasal dari kata “Saudagar”, di situ dulu tempat tinggal para Saudagar Batik Banyumas yang sukses dan berhasil. Sementara sentra Batik Banyumas satu lagi ada di Sokaraja, sampai sekarang batik-batik berkualitas terus dihasilkan oleh sentra-sentra batik di Sokaraja.

 

Motif Khas Batik Banyumas

Motif batik Banyumas beragam, sedikit unik dan berbeda dari daerah lainnya. Kekhasan dari motif batik Banyumas adalah motifnya banyak terinspirasi dari flora yang terdapat di Banyumas, lukisan di kain batik lebih berupa sulur-sulur tumbuhan, menurut cerita ini sesuai dengan kondisi Banyumas di masa lalu yang masih merupakan hutan lebat. Kemudian soal warna, Batik Banyumasan cenderung memiliki warna yang lebih gelap dan pekat.

 

Batik Banyumas hampir memiliki kesamaan dengan motif Jonasan. Motif Jonasan merupakan kelompok motif non geometrik yang didominasi dengan warna-warna dasar kecoklatan dan hitam. Warna coklat karena soga, sementara warna hitam karena wedel. Batik Banyumasan memiliki kekhasan yang terlihat dari motif maupun pewarnaannya yang mempunyai warna pekat dan tandas, inilah yang membedakan dengan Batik lainnya di Jawa.

 

Batik Banyumasan dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, penghargaan terhadap nilai demokrasi dan semangat kerakyatan. Nilai filosofis itulah yang kemudian tertuang dalam motif-motif batik yang khas seperti Sekarsurya, Sidoluhung, Jahe Puger, Cempaka Mulya, Khantil, Ayam Puger, Madu Bronto, Jahe Srimpang, Lumbon (Lumbu), Sungai Serayu, Gunungan, Batu Waljinan, Kawung Jenggot, Dunia Baru, Satria Busana, Pring Sedapur, dan lain sebagainya.

 

Kejayaan Batik Banyumas pernah terjadi sekitar tahun 1965-an sampai 1970-an. Namun semakin kesini, Batik Banyumas kalah saing dengan batik dari daerah lain. Hal ini dikarenakan masalah pengelolaan, terutama masalah manajemen usaha. Batik Banyumas, susah berkembang karena minimnya minat pembatik muda. Generasi muda saat ini, lebih memilih untuk bekerja di sektor formal dan enggan belajar membatik dari orang tuanya.

 

Dalam buku Katalog Batik Banyumasan, hingga tahun 1970-an di Banyumas terdapat sekitar 165 pengusaha batik. Jumlah tenaga pembatik (pengobeng) saat itu mencapai sekitar 500-6000 orang. Di samping para pengusaha dan pengobeng, juga ada perantara atau pengepul batik yang membantu pemasaran hasil produksi batik.  Setelah era 1970-an, batik di Banyumas bisa dikatakan mengalami kemunduran. Jumlah pengrajin batik menurun drastis hingga tinggal beberapa orang saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *