Sejarah Batik di Semarang

Semarang merupakan daerah pelabuhan dan salah satu pusat investasi industri terbesar di Indonesia. Semarang sering disinggahi bangsa dan budaya luar, sehingga banyak akulturasi budaya terjadi. Dalam bidang batik, banyak yang mengira bahwa Semarang merupakan sentra batik di Jawa Tengah. Namun sampai saat ini belum ada yang menunjukkan Semarang memiliki tradisi batik, Batik Semarang juga belum memiliki motif dan pakem yang jelas.

 

Semarang sebagai wilayah perbatikan memang kurang banyak disebut, hal ini sangat dimungkinkan karena di Semarang jumlah produsen batik relatif kecil. Ketika meningkatnya pengusaha batik Indo-Eropa dan Cina peranakan, pertumbuhan produsen batik di wilayah Semarang tak ikut meningkat bila dibandingkan dengan wilayah pekalongan. Namun diyakini bahwa Batik telah berkembang di Wilayah Semarang sejak tahun 1920-an, pada masa pemerintahan Hindia-Belanda.

 

Dari dokumen pemerintah Kolonial Belanda, tahun 1919-1925 sentra batik di kota Semarang sangat berkembang. Hal ini dikarenakan terjadi krisis yang menyebabkan sulitnya mendapatkan bahan sandang. Akibatnya masyarakat memenuhi kebutuhan sandangnya sendiri dengan membuat pakaian sendiri. Desakan kebutuhan untuk membuat sandang sendiri inilah yang akhirnya membuat Batik mulai berkembang di Semarang.

 

Pengaruh budaya jawa dalam berbusana khususnya dari kerajaan mataram, melahirkan banyak pengrajin batik di Semarang. Perajin Batik Semarang tidak pernah membakukan motif, seperti halnya perajin-perajin batik di kota Solo, Jogja atau Pekalongan. Sebagai masyarakat pesisir Utara Jawa, mereka umumnya membatik dengan motif naturalis: seperti binatang, alam, rumah dan lain sebagainya. Hal ini berbeda dengan batik Solo dan Jogja yang mempunyai pakem dari Kraton.

 

Masa Kritis Batik Semarang

Batik Semarang pernah memasuki masa kritis, ketika tentara Jepang akan memasuki Kota Semarang pada tahun 1942. Pemerintah Belanda di semarang memberikan instruksi secara diam-diam kepada penduduk untuk membumihanguskan tempat-tempat yang memiliki potensi ekonomi. Sasarannya antara lain seperti gudang-gudang, pelabuhan, toko-toko, sentra-sentra industri, dan lain-lain. Kampung Batik pun menjadi sasaran pembakaran, meskipun belum seluruhnya musnah.

 

Pasukan Jepang yang bersiap membumi hanguskan Kota Semarang

Surutnya kegiatan membatik di kampung batik diperparah oleh peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang. Pertempuran antara pemuda Indonesia dan tentara Jepang tersebut berlangsung pada 15-19 Oktober 1945. Pada tanggal 15 Oktober 1945 tentara Jepang membakar rumah-rumah penduduk di kampung-kampung di Kota Semarang. Diantaranya: Kampung Batik, Lempongsari, Depok, Taman Serayu, Pandean Lamper, dan lain-lain. Karena peristiwa pembumihangusan itu, seluruh peralatan membatik di Kampung Batik ikut terbakar, dan kegiatan membatik di kampung itu pun terhenti.

 

Setelah kampung batik di bumi hanguskan oleh peperanagan ternyata di Semarang, masih bertahan hidup perusahaan batik milik orang Cina peranakan di Kampung Bugangan. Perusahaan ini berkembang sejak awal abad ke-20 sampai dengan tahun 1970-an, bernama Tan Kong Tien Batikkerij. Pemilik perusahaan bernama Tan Kong Tien, yang menikah dengan Raden Ayu Dinartiningsih, salah satu keturunan Hamengku Buwana III dari Kesultanan Jogjakarta.

 

Tan Kong Tien adalah salah seorang putera dari Tan Siauw Liem, seorang tuan tanah di Semarang, yang mendapat gelar mayor dari pemerintah Hindia Belanda. Kekayaan tanahnya meliputi kawasan Bugangan sampai Plewan, seluas 90 ha. Karena kekayaan itu, tidaklah mengherankan jika putera Tan Siauw Liem itu diambil sebagai menantu oleh sultan di Jogjakarta. Tan Kong Tien memperoleh keahlian membatik dari istrinya yang masih kerabat keraton Jogja itu.

 

Keahlian dalam pengelolaan usaha batik diturunkan kepada puteri Tan Kong Tien, Raden Nganten Sri Murdijanti, yang meneruskan perusahaan Tan Kong Tien sampai dengan tahun 1970-an. Setelah kemerdekaan Indonesia, Raden Nganten Sri Murdijanti memperoleh hak monopoli batik untuk wilayah Jawa Tengah dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Pada tahun 1970, perusahaan batik Tan Kong Tien surut, karena tidak ada lagi generasi penerusnya.

 

 

Motif Batik Semarang

Robyn Maxwell, seorang peneliti tekstil di Asia Tenggara, menjumpai sebuah sarung di Tropenmuseum Amsterdam yang di buat di Semarang. Dalam bukunya Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade and Transformation (2003:386), Maxwell menyebut sebuah kain produksi Semarang berukuran 106,5×110 cm. Kain tersebut terbuat dari bahan katun dengan dekorasi dari warna alam, memiliki motif yang sangat berbeda dengan motif Surakarta atau Yogyakarta.

 

Pepin Van Roojen, menemukan beberapa jenis batik dari Semarang seperti yang ditulis dalam bukunya berjudul Batik Design (2001:84). Ada kain sarung yang dibuat pada akhir abad ke-19 di Semarang. Sarung itu memiliki papan dan tumpal dengan ornament berupa bhuta atau sejenis daun pinus runcing asal Kashmir. Motif badannya berupa ceplok. Ini menunjukkan meskipun secara spesifik batik Jawa Tengah yang diwakili Surakarta dan Yogyakarta berbeda dengan batik pesisir. Semarang termasuk di dalamnya, namun pola-pola baku tetap pula dipakai seperti ditunjukkan pada pola ceplok itu.

 

Peneliti batik lain, menegaskan batik semarang dalam beberapa hal memperlihatkan gaya laseman karakter utama laseman berupa warna merah (bangbangan) dengan latar belakang gading (kuning keputih-putihan). Lee Chor Lin (2007:65) mengatakan laseman dengan ciri bangbangan mempengaruhi kreasi batik di beberapa tempat di pesisir utara lainnya seperti Tuban, Surabaya dan Semarang.

 

Maria Wonska-Friend yang mengkaji koleksi batik milik Rudolf G Smend (Smend et al, 2006:53) menyebutkan ciri pola batik Semarang berupa floral, yang dalam banyak hal serupa dengan pola Laseman. Tidak heran pada koleksi tersebut banyak sekali kain batik dari abad ke-20 yang disebut batik Lasem atau Semarang. Maksudnya, batik-batik tersebut tidak secara spesifik disebut sebagai kreasi satu kota misalnya batik Lasem saja atau batik Semarang saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *