Sejarah Batik di Madura

Madura memang bukan daerah yang populer Batiknya, orang lebih mengenal Madura sebagai daerah penghasil garam. Perjalanan Sejarah Madura dimulai dari perjalanan Arya Wiraraja (kelak berperan dalam munculnya Batik di Madura) sebagai Adipati pertama di Madura pada abad 13. Dalam kitab nagarakertagama, mengatakan bahwa Pulau Madura semula bersatu dengan tanah Jawa, orang Madura dan orang Jawa merupakan bagian dari komunitas budaya yang sama.

 

Sebagai bagian dari komunitas budaya yang sama, Madura juga banyak terpengaruh oleh Jawa termasuk dalam hal berbusana. Sejarah Batik Madura sudah ada pada sejak zaman kerajaan-kerajaan yang ada di pulau Madura, kerajaan yang sangat berperan pada waktu itu adalah kerajaan Pamelingan yang ada di Pamekasan, Madura. Kerajaan Pamelingan ini memiliki keraton bernama Mandilaras, yang menjadi pusat pemerintahan dibawah kendali Pangeran Ronggosukowati.

 

Pangeran Ronggosukowati merupakan Raja Islam Pertama di Pamekasan, dikenal sebagai pendiri kota Pamekasan yang membangun tata kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Pangeran Ronggosukowati naik tahta menggantikan ayahnya, Pangeran Nugeroho pada tahun 1530. Pamekasan adalah salah satu Kabupaten dari 4 Kabupaten yang ada di Madura yaitu Kabupaten yang paling dekat dari jembatan suramadu (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep).

 

Saat kerajaan Pamelingan berada di bawah pemerintahan Pangeran Ronggosukowati, terdapat seorang Adipati, Raden Ismail yang memiliki seorang penasihat spiritual bernama Raden Azhar. Raden Azhar terlibat peperangan dengan salah satu putera keturunan raja Cakraningrat I. Pada peperangan itu Raden Azhar mengenakan pakaian dengan motif batik parang yang menjadi pakaian kebesarannya.

 

Sementara itu di Sumenep, terdapat Adipati Arya Wiraraja yang dekat dengan seorang raja Majapahit, Raden Wijaya. Arya Wiraraja inilah yang kemudian banyak memperkenalkan batik di wilayah Madura. Kedekatan Adipati Arya Wiraraja dengan Raden Wijaya inilah asal mula Batik mulai dikenal, kemudian berkembang hingga masa pemerintahan berikutnya serta kerajaan lain di sekitar wilayah Madura.

 

Berkembangnya Batik Madura

Pasar Batik Madura

Kain batik Madura mulai dikenal masyarakat luas pada abad ke 16 dan 17. Hal ini bermula ketika terjadi peperangan di Pamekasan Madura antara Raden Azhar (Kiai Penghulu Bagandan) melawan Ke’ Lesap. Raden Azhar merupakan ulama penasihat spriritual Adipati Pamekasan yang bernama Raden Ismail (Adipati Arya Adikara IV). Sedangkan Ke’ Lesap merupakan putera Madura keturunan Cakraningrat I dengan istri selir.

 

Dalam peperangan itu, Raden Azhar memakai pakaian kebesaran kain batik dengan motif parang atau dalam bahasa Madura disebut motif leres yakni kain batik dengan motif garis melintang simetris. Ketika memakai kain batik motif parang, Raden Azhar memiliki kharisma, tampak gagah berwibawa. Sejak itulah, batik menjadi perbincangan di kalangan masyarakat Madura, terutama pembesar-pembesar di Pamekasan.

 

Batik Madura menurut beberapa kalangan dinilai memiliki kesamaan dengan batik Jogjakarta, baik dari segi motif maupun pewarnaan. Adanya kesamaan tersebut dikarenakan masalah hubungan keluarga kerajaan, yaitu adanya hubungan keluarga antara raja-raja Mataram dengan para pembesar kerajaan di Madura. Kerajaan Bangkalan pada zaman raja Cakraningrat I adalah bawaan Kesultanan Mataram yang dipimpin Sultan Agung.

 

Motif Batik Madura

Motif batik dari madura memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh beberapa batik dari daerah lainnya. Ciri utama atau khas batik Madura yang mudah dikenali yaitu selalu terdapatnya warna merah dalam motif bunga ataupun daun. Corak dari batik Madura tak lepas dari pengaruh budaya asing seperti Cina. Warna cerah merupakan pengaruh dari orang-orang tionghoa. Batik madura mempunyai warna yang mencolok, seperti kuning, merah atau hijau.

 

Batik Madura juga memiliki perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka flora dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura. Teknik pewarnaan Batik Madura dilakukan secara khusus yaitu melalui proses perendaman yang memakan waktu selama enam bulan. Jadi meski terlihat kasar, namun batik Madura tidak murahan.

 

Motif batik madura yang unik, desainnya yang bebas dan warnanya yang berani menjadikan batik tulis madura terlihat lain dari yang lain. Mudah untuk mengetahui batik madura atau bukan jika disandingkan dengan batik daerah lain. saat ini batik madura sudah sangat dikenal masyarakat dan mempunyai tempat tersendiri di hati para pencinta batik. Perkembangan batik madura ini sangat didukung oleh adanya jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura.

 

Diolah dari berbagai sumber, disusun oleh Begras Satria (founder Nusacraft)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *