Silsilah Batik Kartini

Ada sejumlah pertanyaan muncul tentang Kartini ketika membaca salah satu lembar buku harian Nicolaus Adriani, ahli bahasa yang pada 1884 dikirim oleh Belanda untuk mempelajari bahasa Toraja di Sulawesi Tengah.

Dalam lembar bertanda “Depok, September 1900”, ia mencatat pertemuan dengan Kartini, Roekmini, dan Kardinah di Batavia–kini Jakarta. Kala itu, tiga bersaudara putri Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat itu diundang keluarga J.H. Abendanon, Direktur Kementerian Pengajaran, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

Adriani menggambarkan ketiganya berpakaian sama: berkebaya sutra putih bunga-bunga jambu, berkonde dan berkalung emas. “Yang membuat mereka begitu cantik, dan ketiganya mengenakan sarung batik indah, buatan sendiri, berwarna cokelat memikat,” demikian Adriani menuliskan, seperti dikutip Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Panggil Aku Kartini Saja.

Sebagai putri bupati, ketiganya mendapat kesempatan untuk belajar membatik dari pembatik kabupaten. Bahkan Kartini-lah yang memperkenalkan batik ke Belanda. Esainya bertajuk Handschrift Japara berisi batik dan detail proses pembuatannya membuat takjub Ratu Wilhelmina, yang membaca ketika mampir ke stan Java dalam Pameran Nasional Karya Wanita di Den Haag, Belanda, 1898. Ada sejumlah foto yang memperlihatkan Kartini sedang membatik.

 

Batik Kartini

Lantas batik seperti apa yang dikenakan oleh Kartini dan adik-adiknya ketika bertemu dengan Adriani? Adriani tidak menyebutkannya.

Secara garis besar, batik terbagi dua: pesisiran, yang berasal dari kota-kota di pantai utara Jawa; dan Mataraman atau keraton, yang berasal dari Yogyakarta dan Solo. Batik keraton sangat menuruti pakem, motifnya itu-itu saja (geometris berulang), dan warnanya didominasi soga (cokelat). Sedangkan batik pesisir memiliki motif dan warna amat beragam, sebebas masyarakat yang jauh dari kungkungan keraton. Pengaruh Eropa, Arab, dan Cina amat terasa, karena mereka berada di jalur perdagangan internasional kala itu.

Tapi, meski Jepara berada di pesisir utara Pulau Jawa, bisa dipastikan Kartini tidak memakai batik pesisiran. Dia adalah anak bupati. Sebagai seorang priayi, apalagi ketika di muka publik, mereka pasti mengenakan batik keraton atau Mataraman. Pada masa itu, batik adalah penunjuk status sosial. Motif tertentu hanya boleh dikenakan oleh kelas sosial tertentu. Hanya bangsawan yang boleh mengenakan batik keratonan. Lihat saja foto-foto Kartini ketika bersama keluarga, di mana ia tampak selalu mengenakan batik motif parang.

 

Keunikan Batik Kartini

Yang sedikit mengherankan, batik yang ditulis Kartini tampaknya bukanlah batik keraton. Setidaknya itu jawaban sementara jika melihat satu-satunya koleksi batik asli buatan Kartini yang dimiliki Museum Nasional, Jakarta. Batik yang digelar di atas meja berbungkus kaca pelindung itu bermotif buketan bunga anyelir.

Buketan berasal dari kata buket, yang berarti rangkaian bunga. Ini salah satu ciri batik pesisiran. Dari namanya, kita tahu pengaruh Belanda dalam batik gaya ini sangat kuat. “Satu-satunya yang menunjukkan pengaruh keratonan hanya pada pewarnaannya yang cokelat sogan,” kata Suyanti Jatmiko, pengelola Paguyuban Biyung Pralodo dan Galeri Batik Nalendra, Jepara.

Suyanti adalah cucu RA Soetjia, salah satu murid membatik R.A. Kartini di kediaman Bupati Jepara. Galerinya kini masih menyimpan belasan kain batik buatan Soetjia yang “senada” dengan batik-batik buatan Kartini, seperti batik motif kembang kantil (cempaka putih), srikaton, dan parang gondosuli. Motif terakhir ini sangat dipengaruhi pakem parang yang lahir dari balik tembok keraton.

Sejak 2005, Suyanti mengunjungi banyak museum, pameran, dan literatur tentang batik untuk mencari akar batik Jepara. Meski belum menemukan jawaban karena minimnya dokumentasi batik Jepara, dia meyakini “batik Kartini” ialah gaya baru. “Kartini mengkombinasikan batik keraton dengan batik rakyat atau pesisiran,” katanya. Untuk motif, Kartini memakai motif-motif gaya pesisiran, misalnya bunga, dedaunan, burung, atau kupu-kupu. Tapi, untuk pewarnaan, dia memilih gaya keraton yang memakai soga.

Tak jelas apakah Kartini sengaja menggabungkan dua batik tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya feodal. Tapi pengaruh batik Mataraman memang sampai juga di Jepara yang pesisir. Edy Winarno, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Rembang, meyakini batik Mataraman masuk ke sana pada masa Perang Diponegoro (1825-1830). Ketika itu, para bangsawan dari Jawa “pedalaman” menyebar ke daerah-daerah tepi laut, termasuk Rembang dan Jepara. “Mereka juga membawa istri mereka yang kemudian menularkan motif dan teknik batik keraton.”

AGOENG WIJAYA | EDI FAISOL

Tempo.co JAKARTA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *