3 Wisata Kampung Batik Paling Terkenal

Batik sebagai warisan budaya bangsa yang telah diakui Dunia kian hari makin dikenal. Banyak wisatawan asing maupun domestik memburu Kain Batik, hingga ke pelosok sentra penghasil Batik di seluruh Nusantara. Terhitung terdapat ratusan kampung di Indonesia sebagai penghasil Kain Batik. Meski belum terdapat data yang resmi mengenai berapa jumlah kampung Batik di Indonesia, namun semakin hari bermunculan kampung Batik yang menjadi destinasi wisata yang dituju.

 

Dari ratusan Desa atau Kampung penghasil Batik di Indonesia, tidak semuanya telah dikenal sebagai Kampung Batik. Diantaranya ada yang sudah terkenal bahkan hingga ke mancanegara. Selain untuk berbelanja Batik, Anda dapat menikmati suasana produksi Batik bahkan belajar membatik di Kampung Batik. Berikut ini 3 Kampung Batik paling Terkenal yang ada di Indonesia versi Nusacraft, berdasarkan banyaknya pencarian kata kunci “kampung batik” yang ada di google.

 

Kampung Batik Laweyan, Solo – Jawa Tengah

Suasana Kampung Batik Laweyan Solo

Terletak tak jauh dari pusat Kota Solo, Kampung Batik Laweyan merupakan ikon wisata yang melekat bagi turis yang datang. Kampung Batik Laweyan telah ada sejak tahun 1546, dipelopori oleh Kyai Ageng Henis pada masa Kerajaan Pajang. Kampung Laweyan merupakan tempat lahirnya Mas Ngabehi Sutowijaya yakni pendiri Dinasti Mataram Islam. Selain itu tempat berdirinya Sarekat Dagang Islam tahun 1911 yang dipimpin oleh K.H. Samanhudi.

 

Kampung ini mulanya adalah sebuah pasar yang menyediakan bahan baku tenun (Lawe) sejak zaman Kerajaan Pajang. Bahan baku kapas pada saat Kerajaan Pajang dipasok dari desa Pedan, Juwiring dan Gawok. Aktivitas perdagangan di Kampung Laweyan ini terus berkembang, kemudian para saudagar batik di Laweyan merintis berdirinya “Persatoean Peroesahaan Batik Boemi Putera Soerakarta” di tahun 1935.

 

Saat ini ada sekitar 70 pedagang batik dari skala kecil hingga menengah yang aktif di Kampoeng Laweyan. Meskipun bernama kampung batik, tempat ini tidak hanya menyediakan kain batik. Di sini Anda dapat memberi aneka kerajinan tangan lainnya seperti sandal, kaos, dan aksesoris yang berhubungan dengan batik. Selain itu Kampung Batik Laweyan kini menjadi pusat perhatian turis asing maupun domestik untuk melihat proses pembuatan batik.

 

Kampung Batik Trusmi, Cirebon – Jawa Barat

Gapura Desa Batik Trusmi

Letak Kampung Trusmi sekitar 4 KM dari Cirebon ke arah Bandung. Apabila anda datang dari Jakarta, keluar tol Plumbon ke arah Kota Cirebon atau menggunakan jalur Palimanan. Setelah melewati pusat pertokoan di Jalan Raya Plumbon anda akan menemukan perempatan Pasar Plered. Belok ke arah kiri, tidak jauh akan menemukan jajaran pengrajin batik. Di sana ada sekitar 400-an pengrajin batik yang berjejer di sepanjang jalan Trusmi bahkan sampai masuk ke gang-gang.

 

Batik Trusmi Cirebon mulai ada sejak abad ke 14. suatu daerah dimana saat itu tumbuh banyak tumbuhan, kemudian para warga menebang tumbuhan tersebut namun secara seketika kemudian tumbuhan itu tumbuh kembali. Sehingga tanah tersebut dinamakan Desa Trusmi yang berasal dari kata terus bersemi. Kisah membatik di Desa Trusmi dimulai dari peranan Ki Gede Trusmi, pengikut Sunan Gunung Jati ini menyebarkan agama Islam sambil mengajarkan seni membatik.

 

Secara umum batik Cirebon termasuk kedalam kelompok batik Pesisiran. Namun juga sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik Keraton. Hal ini karena di Cirebon memiliki dua buah keraton, yaitu Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Konon berdasarkan sejarah, dari dua keraton ini muncul beberapa desain batik Cirebon Klasik. Diantaranya motif Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong dan Ayam Alas.

 

Kampung Batik Lasem, Rembang – Jawa Tengah

Gapura Kampung Batik Lasem. di Desa Babagan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang

Lasem sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dikenal sebagai Kota Batik yaitu Batik Lasem atau Batik Laseman, yang terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani. Lasem, Pancur dan Kragan ialah sentra batik di Rembang. Sempat jaya hingga tahun 80-an, batik Lasem pernah turun pamor pada era 90-an. Lasem kembali bangkit setelah UNESCO menetapkan batik sebagai warisan dunia.

 

Batik tulis Lasem, pertama kali dirintis oleh perempuan peranakan China, putri dari nahkhoda kapal dalam armada Laksamana Ceng Ho pada 1413 M. Karena itu motifnya pun kaya pengaruh budaya China, misal burung hong, naga, hingga ikan emas dan ular. Motif flora yang tampil dalam batik Lasem pun tak jauh-jauh dari teratai dan bunga seruni. Adapun motif lokal ialah watu pecah. Menarik, karena motif ini merupakan ekspresi kebencian kaum pribumi yang dipaksa kerja rodi untuk membuat jalan Pos Anyer-Panarukan.

 

Warna khas Batik Lasem ialah warna merah darah, biru tua (biron) dan hijau tua. Menarik, sebab masing-masing keluarga pembatik punya ramuan rahasia sehingga satu pembatik akan menghasilkan warna yang berbeda dengan pembatik lainnya. Selain itu di Kampung Batik Lasem Anda tidak akan mudah menemukan Batik Cap apalagi printing yang memang bukan Batik, hampir semuanya disini merupakan Batik Tulis.

 

Sebetulnya masih banyak Kampung Wisata Batik di Indonesia, baik yang telah diresmikan pemerintah maupun yang muncul secara organik karena aktivitas masyarakat yang memang mayoritas pembatik. Nusacraft menampilkan tiga yang paling populer diatas berdasarkan ke-khas-an dan sejarah yang panjang dari Kampung Batik tersebut, selain karena paling banyak dikenal dan dicari wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *