Kain Batik Tulis Warna Alam Jolawe

Rp 550.000

  • Bahan : Katun Primis
  • Teknik : Batik Tulis
  • Pewarnaan : Jolawe
  • Motif : Sekarjagad
  • Ukuran : 220 x 115 cm

 

Untuk pemesanan juga bisa langsung via WhatsApp 0821.3554.5155

Description

Batik Tulis
Batik Tulis Warna Alam Jolawe

Kain Batik Tulis Warna Alam

Proses pembuatan Batik Tulis adalah proses yang membutuhkan teknik, ketelitian, dan kesabaran yang tinggi.  Hal ini disebabkan oleh segala sesuatu proses pembuatannya dikerjakan manual dengan menggunakan tangan terampil manusia.

Teknik batik tulis dilakukan dengan menorehkan cairan malam (lilin) melalui media canting tulis.  Proses pembuatan batik tulis hampir serupa dengan proses pembuatan batik cap.  Cairan malam (lilin) harus tetap terjaga pada kondisi suhu 70 derajat celcius.  Dengan menggunakan canting tulis cairan malam diambil dari nyamplung.  Cucuk canting harus berlubang, sehingga perlu ditiup agar membran cairan terbuka.  Setelah itu cairan malam baru dioleskan sesuai motif yang telah digambar di kain mori dengan pensil.

Dalam proses pembuatan batik tulis kita harus menyiapkan terlebih dahulu kain mori terbentang, mengambar sketsa motif batik yang akan dibuat dengan menggunakan pensil, kemudian menorehkan cairan malam (lilin) dengan warna dengan menggunakan canting tulis secara teliti dan hati-hati.  Apabila kain mori telah selesai digambar dengan cairan malam (lilin), selanjutnya dilakukan proses pewarnaan, lorot malam, membilas soda, dijemur, dan disetrika.

 

Batik Warna Alam

Pembatik jaman dahulu memanfaatkan tumbuh-tumbuhan untuk diambil zat warnanya, sehingga sifat kain batik yang tercipta adalah ramah terhadap lingkungan dan ramah terhadap kulit manusia.  Banyak sekali jenis tanaman yang bisa dijadikan zat warna batik. Masing-masing bahan zat warna memiliki cara yang berbeda dalam pengerjaannya. Bisa melalui proses bejana (direbus), direct (langsung) atau melalui proses fermentasi (pembusukan).

Proses pembuatan batik dengan zat pewarna alami dilakukan dengan mengekstrak senyawa organik penimbul warna yang diambil dari tumbuhan. Bagian tumbuhan yang dapat digunakan diantaranya daun (mangga, alpukat, ketepeng, jambu, bakau, talok, jati); batang (jambal, tinggi, mahoni); buah (jalawe, rambutan, kelapa, manggis); bunga (sedap malam, pis kucing); biji (sombo) dan akar (mengkudu).

Batik warna alam merupakan solusi untuk produksi batik yang aman dan ramah lingkungan. Proses dan warnanya yang unik membuat Batik Warna Alam cocok untuk dijadikan kado batik atau dijahit menjadi baju batik untuk dipakai saat event khusus saja.

Berabad lamanya, penggunaan bahan pewarna alami sudah dikenal pembatik di Indonesia. Keragaman hayati Indonesia menyediakan banyak bahan-bahan pewarna yang tersedia di alam – murah dan mudah di dapat. Keahlian untuk mengolah bahan pewarna alam dikembangkan secara tradisional dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Diperkenalkannya bahan pewarna kimia/sintetis [mungkin pada era kolonialisme], menarik minat pembatik karena bahan pewarna kimia memberikan pilihan warna yang lebih beragam dan warna yang lebih terang dibandingkan menggunakan pewarna alam. Proses pewarnaan juga menjadi lebih singkat dan lebih murah dengan pewarna kimia.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, tren penggunaan bahan baku pewarna alam kembali marak di kalangan para pembatik. Meski beberapa bahan pewarna kimia memenuhi standar industri untuk digunakan, tapi jika tidak diiringi dengan sistem pengolahan limbah kimia yang layak, pencemaran sungai tidak bisa dihindari. Semangat green environment tidak hanya didukung oleh banyak pembatik, tapi demand untuk produk-produk ramah lingkungan juga makin tinggi – termasuk untuk batik.

Pembuatan Batik Tulis Warna Alam

Secara tradisional penggunaan bahan pewarna alam sebenarnya masih banyak digunakan, meski jika dibandingkan dengan penggunaan bahan pewarna kimia jumlahnya lebih sedikit. Penggunaan bahan pewarna alam juga lebih banyak terbatas untuk menciptakan warna-warna klasik khas tradisional, seperti warna coklat kemerahan di daerah Yogyakarta dan Solo. Warna tradisional “coklat kemerahan” itu disebut “sogan” atau “sogo”, asal katanya dari “kayu sogo” [Copperpod, Golden Flamboyant, Yellow Flame Tree – Peltophorum pterocarpum].

Proses pewarnaan batik dengan menggunakan bahan pewarna alam memang secara rata-rata memang lebih lama dibandingkan menggunakan bahan pewarna kimia. Proses pewarnaannya juga hanya bisa dilakukan dengan pencelupan, tidak bisa diaplikasikan dengan teknik warna colet.

Proses pencelupan harus diulang beberapa kali untuk mendapatkan tingkat kecerahan warna yang diinginkan. Jika misalnya pewarnaan dengan bahan kimia hanya memerlukan 1 kali pencelupan untuk satu warna, pencelupan dengan bahan pewarna alam bisa harus dilakukan 5-10 kali berulang-ulang.

Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sinar matahari untuk proses pengeringan yang sempurna sebelum melakukan pencelupan selanjutnya. Pencelupan yang berulang-ulang juga lebih beresiko untuk terjadinya malam yang pecah.

Makanya, biasanya batik dengan pewarna alam hanya menggunakan 1-2 warna saja – tidak seceria warna-warni batik dengan pewarna kimia. Tapi efek yang ditampilkan akan jauh berbeda – kesan calm, warm, bahkan elegant selalu terpancar dari batik-batik warna alam ini.

 

Additional information

Weight 0.6 g

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Kain Batik Tulis Warna Alam Jolawe”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *